Sugeng Rawuh

Selamat datang di Blognya Rizqi Saras Hidayati ...

Rabu, 08 Juni 2011

Peran BK dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan

Pendidikan merupakan komponen utama dalam menentukan tingkat kemajuan suatu bangsa. Pendidikan dapat mengarahkan kepada masa depan bangsa, baik itu baik taupun buruk, itu ditentukan oleh pendidikan kita saat ini. Jika pendidikan saat ini sudah teroptimalkan dan dimanfaatkan fungsinya secara baik maka kemajuan bangsa, masa depan bangsa yang cerah bukan lagi hanya sekedar impian belaka, tapi sudah menjadi kepastian yang akan terwujud.

Seperti yang kita pahami bersama bahwa pendukung utama bagi tercapainya sasaran pembangunan manusia Indonesia yang bermutu adalah pendidikan yang bermutu. Pendidikan yang bermutu dalam penyelenggaraannya tidak cukup hanya dilakukan melalui taranformasi ilmu pengetahuan dan teknologi, teori-teori, taupun hal-hal yang bersifat kognitif saja tetapi juga harus didukung oleh peningkatan profesionalitas dan sistem manajemen tenaga pendidikan serta pengembangan kemampuan peserta didik untuk menolong dirinya sendiri dalam memilih dan mengambil keputusan untuk pencapaian cita-cita dan harapan yang dimilikinya.

Kemampuan diatas tidak hanya menyangkut hal-hal yang bersifat akademis, tetapi juga menyangkut aspek perkembangan pribadi, sosial, kematangan intelektual, dan sistem nilai peserta didik. Dari sana kita dapat melihat bahwa pendidiakn yang bermutu adalah pendidiakn yang mengahntarkan peserta didik pada pencapaian standar akademis yang diharapakn dalam kondisi perkembnagan diri yang sehat dan optimal.

 Didalam keseluruhan proses pendidikan setidaknya ada 3 (tiga) komponen pokok yang paling menunjang dan harus dilaksanakan dalam pendidikan yaitu: program yang baik, administrasi dan supervisi yang lancar, serta pelayanan bimbingan yang terarah. Dari sini jelas bahwa bimbingan dan konseling mempunyai peran yang cukup penting didalam proses pendidikan.

Sebagai salah satu komponen penunjang pendidikan, bimbingan dan konseling mempunyai posisi kunci didalam kemajuan atau kemunduran pendidikan. Mutu pendidikan ikut ditentukan oleh bagaimana bimbingan dan konseling itu dimanfaatkan dan dioptimalkan fungsinya dalam pendidikan, khususnya institusi sekolah.

            Peran bimbingan dan konseling dalam meningkatkan mutu pendidikan seperti yang telah disebutkan sebelumnya,  tidak hanya terbatas pada bimbingan yang bersifat akademik tetapi juga sosial, pribadi, intelektual dan pemberian nilai. Dengan bantuan bimbingan dan konseling maka pendidikan yang tercipta tidak hanya akan menciptakan manusia-manusia yang berorientasi akademik tinggi, namun dalam kepribaian dan hubungan sosialnya rendah serta tidak mempunyai sistem nilai yang mengontrol dirinya sehingga yang dihasilkan pendidikan hanyalah robot-robot intelektual, dan bukannya manusia seutuhnya. Dengan adanya bimbingan dan konseling maka integrasi dari seluruh potensi ini dapat dimunculkan sehinga keseluruhan aspek yang muncul, bukan hanya kognitif atau akademis saja tetapi juga seluruh komponen dirinya baik itu kepribadian, hubungan sosial serta memiliki niali-nilai yang dapatdijadiakn pegangan.
Jadi, dari sini kita dapat menyimpulkan bahwa peran bimbingan dan konseling didalam meningkatkan mutu pendidikan terletak pada bagaiaman bimbingan dan konseling itu membangun manusai yang seutuhnya dari dberbagai aspek yang ada didadalam diri peserta didik. Karena seperti diawal telah dijelaskan bahwa pendidikan yang bermutu bukanlah pendidikan yang hanya mentransformasikan ilmu pengetahuan dan teknologi saja tetapi juga harus meningaktkan profesionalitas dan sistem manjemen, dimana kesemuanya itu tidak hanya menyangkut aspek akademik tetapi juga aspek pribadi, sosial, kematangan intelektual, dan sistem nilai. Peran BK dalam keempat aspek inilah yang menjadikan bimbingan konseling ikut berperan dalam peningkatan mutu pendidikan.

Referensi:
Kosnandar. (2000). Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Bandung: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Kantor Wilayah jawa Barat.
Juntika Nurihsan, Achmad. (2005). Strategi Layanan Bimbingan dan Konseling. Bandung: Refika Aditama.

Mempertanyakan Profesionalisme Konselor

Sebuah pertanyaan, “menurut anda apa hambatan terbesar dalam pelaksanaan program Bimbingan Konseling (BK) di sekolah?”, diajukan ke 14 teman kita, dan hanya 8 orang yang bersedia menjawab via sms.
Menariknya, hampir semua teman kita sepakat bahwa faktor konselorlah biang keladi kurang berhasilnya pelaksanaan BK di sekolah. Sebuah jawaban jujur yang patut diapresiasi. Sebab ada kecenderungan sebuah korps cenderung membela diri dan tidak mau dipersalahkan atas kekurangan atau kesalahan yang mungkin terjadi.
Apa sih sebenarnya kekurangan para konselor sekolah?
Mas Puji Irianto Langgeng dengan antusias mengatakan, hambatan utama pelaksanaan BK di sekolah terletak pada kompetensi konselor yang kurang, sehingga profesionalitas kerjanya pun tidak terlihat. Menurutnya, sangat langka seorang konselor yang memahami kedudukan dan fungsinya dengan benar, sehingga mereka miskin kreativitas dan inovasi. “Banyak yang masih bingung dengan tugasnya sendiri, sehingga mereka tampil seadanya. PAYAH!”, pungkas Pujo, yang menulis “payah” dalam huruf besar.
Pendapat ini senada dengan yang dilontarkan oleh mas Anis di Kartasura, yang melihat banyak konselor yang tidak profesional dan bonafid, sehingga tidak dipercaya oleh pihak sekolah. Mungkin dari kacamata Anis yang tidak berkacamata ini, banyak dijumpai konselor sekolah yang kinerjanya tidak meyakinkan sehingga pihak sekolah meragukan kemampuannya.
Mbak Muji di Karanganyar juga menyoroti kinerja konselor yang tidak maksimal, padahal menurutnya, “Kalau kita mau profesional semua perangkat, baik sarana maupun kebijakan pemerintah sudah cukup untuk bekal kerja secara profesional.”
Ketidakprofesionalan konselor itu oleh Mas Rissa di Pekalongan dijlentrehkan sebagai “terjebak dalam rutinitas dan pekerjaan administratif dan sekadar partisipatif.” Selain itu Rissa juga menyebut kekurangan mendasar konselor sekolah, seperti tidak menguasai tehnik konseling, tidak kreatif dan inovatif. Beliau tidak asbun lo, karena telah membuktikannya lewat tesis S2-nya, yang membahas kinerja konselor sekolah yang buruk dan hasilnya sangat signifikan. Mas Rissa berjanji akan mempublikasikan tesisnya tersebut di Ikabela82.
Mengapa konselor tidak profesional? Mengapa kinerjanya – di mata sejawat – dianggap memble?
Faktornya pasti banyak. Salah satunya, barangkali, menyangkut etos kerja yang rendah. Menurut Muji, konselor sekolah tidak bekerja maksimal karena dengan kerja santai saja oleh atasan tidak ada teguran. Kalau kerja seadanya sudah dianggap baik, pasti tidak tertantang untuk bekerja lebih baik. Artinya motivasi berprestasi konselor sekolah pada umumnya rendah.
Faktor lain terkait dengan rasio konselor:siswa yang tidak ideal. Ini pendapat Mujiono di Blora. Lebih parah lagi, tidak semua konselor berlatar belakang Bimbingan Konseling, seperti disuarakan oleh Mulyono di Batang.
Memang memprihatinkan. Sudah jumlahnya kurang memadai, background keilmuannya tidak terkait, masih dibebani tugas-tugas yang tidak relevan. Seperti apa? Masih menurut Mujiono. Dari pengalamannya, rata-rata konselor sekolah dianggap sebagai sosok yang serba bisa (oleh siapa?), karena itu seringkali ditempatkan pada posisi yang tidak berkaitan dengan bidang BK, hanya sekedar untuk mengisi posisi yang kosong. Sayangnya, Mujiono tidak merinci contoh tugas seperti apa yang seringkali diemban konselor. Barangkali yang dimaksud adalah tugas-tugas mendisiplinkan siswa yang nakal atau melanggar tata tertib sekolah, yang ujung-ujungnya justru membuat citra konselor negatif di mata siswa.
Paradigma konselor sebagai polisi sekolah ini seharusnya dibuang jauh-jauh dalam praktik sehari-hari, bukan malah dilegendakan. Karena citra itu membuat siswa takut berhubungan dengan konselor.Dalam keadaan takut bagaimana mungkin konselor mau menolong siswa? Bagaimana mungkin siswa akan curhat kepada oknum yang ditakuti?
Idealnya, konselor bisa menjadi sosok yang dipercaya siswa sebagai tempat berbagi..Dalam bahasa mbak Muji, “Konselor harus senantiasa dicari siswa untuk tempat curhat. Jadi manakala konselor tidak masuk, siswa merasa kehilangan teman curhat. Dengan begitu ruang BK bukan untuk menghukum anak tapi ruang dimana siswa memperoleh kenyamanan psikis, sehingga dia dapat belajar dengan optimal.”
Setuju banget. Itu perlunya ada konselor di sekolah. Bukan untuk disegani atau malah dijauhi, tapi menjadi orang yang paling dicari siswa di sekolah, untuk berbagi keluhan dan masalah-masalahnya, mendampinginya menyelesaikan tugas-tugas pertumbuhannya.

HAL – HAL YANG MEMPENGARUHI TIMBULNYA KENAKALAN REMAJA

Kenakalan remaja dapat ditimbulkan oleh beberapa hal, sebagian di antaranya adalah:
  1. PENGARUH KAWAN SEPERMAINAN
    Di kalangan remaja, memiliki banyak kawan adalah merupakan satu bentuk prestasi tersendiri. Makin banyak kawan, makin tinggi nilai mereka di mata teman-temannya. Apalagi mereka dapat memiliki teman dari kalangan terbatas. Misalnya, anak orang yang paling kaya di kota itu, anak pejabat pemerintah setempat bahkan mungkin pusat atau pun anak orang terpandang lainnya. Di jaman sekarang, pengaruh kawan bermain ini bukan hanya membanggakan si remaja saja tetapi bahkan juga pada orangtuanya. Orangtua juga senang dan bangga kalau anaknya mempunyai teman bergaul dari kalangan tertentu tersebut. Padahal, kebanggaan ini adalah semu sifatnya. Malah kalau tidak dapat dikendalikan, pergaulan itu akan menimbulkan kekecewaan nantinya. Sebab kawan dari kalangan tertentu pasti juga mempunyai gaya hidup yang tertentu pula. Apabila si anak akan berusaha mengikuti tetapi tidak mempunyai modal ataupun orangtua tidak mampu memenuhinya maka anak akan menjadi frustrasi. Apabila timbul frustrasi, maka remaja kemudian akan melarikan rasa kekecewaannya itu pada narkotik, obat terlarang, dan lain sebagainya.Pengaruh kawan ini memang cukup besar. Dalam Mangala Sutta, Sang Buddha bersabda: “Tak bergaul dengan orang tak bijaksana, bergaul dengan mereka yang bijaksana, itulah Berkah Utama”. Pengaruh kawan sering diumpamakan sebagai segumpal daging busuk apabila dibungkus dengan selembar daun maka daun itupun akan berbau busuk. Sedangkan bila sebatang kayu cendana dibungkus dengan selembar kertas, kertas itu pun akan wangi baunya. Perumpamaan ini menunjukkan sedemikian besarnya pengaruh pergaulan dalam membentuk watak dan kepribadian seseorang ketika remaja, khususnya. Oleh karena itu, orangtua para remaja hendaknya berhati-hati dan bijaksana dalam memberikan kesempatan anaknya bergaul. Jangan biarkan anak bergaul dengan kawan-kawan yang tidak benar. Memiliki teman bergaul yang tidak sesuai, anak di kemudian hari akan banyak menimbulkan masalah bagi orangtuanya. Untuk menghindari masalah yang akan timbul akibat pergaulan, selain mengarahkan untuk mempunyai teman bergaul yang sesuai, orangtua hendaknya juga memberikan kesibukan dan mempercayakan sebagian tanggung jawab rumah tangga kepada si remaja. Pemberian tanggung jawab ini hendaknya tidak dengan pemaksaan maupun mengada-ada. Berilah pengertian yang jelas dahulu, sekaligus berilah teladan pula. Sebab dengan memberikan tanggung jawab dalam rumah akan dapat mengurangi waktu anak ‘kluyuran’ tidak karuan dan sekaligus dapat melatih anak mengetahui tugas dan kewajiban serta tanggung jawab dalam rumah tangga. Mereka dilatih untuk disiplin serta mampu memecahkan masalah sehari-hari. Mereka dididik untuk mandiri. Selain itu, berilah pengarahan kepada mereka tentang batasan teman yang baik.
    Dalam Digha Nikaya III, 188, Sang Buddha memberikan petunjuk tentang kriteria teman baik yaitu mereka yang memberikan perlindungan apabila kita kurang hati-hati, menjaga barang-barang dan harta kita apabila kita lengah, memberikan perlindungan apabila kita berada dalam bahaya, tidak pergi meninggalkan kita apabila kita sedang dalam bahaya dan kesulitan, dan membantu sanak keluarga kita.
    Sebaliknya, dalam Digha Nikaya III, 182 diterangkan pula kriteria teman yang tidak baik. Mereka adalah teman yang akan mendorong seseorang untuk menjadi penjudi, orang yang tidak bermoral, pemabuk, penipu, dan pelanggar hukum.
  2. PENDIDIKAN
    Memberikan pendidikan yang sesuai adalah merupakan salah satu tugas orangtua kepada anak seperti yang telah diterangkan oleh Sang Buddha dalam Digha Nikaya III, 188. Agar anak dapat memperoleh pendidikan yang sesuai, pilihkanlah sekolah yang bermutu. Selain itu, perlu dipikirkan pula latar belakang agama pengelola sekolah. Hal ini penting untuk menjaga agar pendidikan Agama Buddha yang telah diperoleh anak di rumah tidak kacau dengan agama yang diajarkan di sekolah. Berilah pengertian yang benar tentang adanya beberapa agama di dunia. Berilah pengertian yang baik dan bebas dari kebencian tentang alasan orangtua memilih agama Buddha serta alasan seorang anak harus mengikuti agama orangtua, Agama Buddha.Ketika anak telah berusia 17 tahun atau 18 tahun yang merupakan akhir masa remaja, anak mulai akan memilih perguruan tinggi. Orangtua hendaknya membantu memberikan pengarahan agar masa depan si anak berbahagia. Arahkanlah agar anak memilih jurusan sesuai dengan kesenangan dan bakat anak, bukan semata-mata karena kesenangan orang tua. Masih sering terjadi dalam masyarakat, orangtua yang memaksakan kehendaknya agar di masa depan anaknya memilih profesi tertentu yang sesuai dengan keinginan orangtua. Pemaksaan ini tidak jarang justru akan berakhir dengan kekecewaan. Sebab, meski memang ada sebagian anak yang berhasil mengikuti kehendak orangtuanya tersebut, tetapi tidak sedikit pula yang kurang berhasil dan kemudian menjadi kecewa, frustrasi dan akhirnya tidak ingin bersekolah sama sekali. Mereka malah pergi bersama dengan kawan-kawannya, bersenang-senang tanpa mengenal waktu bahkan mungkin kemudian menjadi salah satu pengguna obat-obat terlarang. Anak pasti juga mempunyai hobi tertentu. Seperti yang telah disinggung di atas, biarkanlah anak memilih jurusan sekolah yang sesuai dengan kesenangan ataupun bakat dan hobi si anak. Tetapi bila anak tersebut tidak ingin bersekolah yang sesuai dengan hobinya, maka berilah pengertian kepadanya bahwa tugas utamanya adalah bersekolah sesuai dengan pilihannya, sedangkan hobi adalah kegiatan sampingan yang boleh dilakukan bila tugas utama telah selesai dikerjakan.
  3. PENGGUNAAN WAKTU LUANG
    Kegiatan di masa remaja sering hanya berkisar pada kegiatan sekolah dan seputar usaha menyelesaikan urusan di rumah, selain itu mereka bebas, tidak ada kegiatan. Apabila waktu luang tanpa kegiatan ini terlalu banyak, pada si remaja akan timbul gagasan untuk mengisi waktu luangnya dengan berbagai bentuk kegiatan. Apabila si remaja melakukan kegiatan yang positif, hal ini tidak akan menimbulkan masalah. Namun, jika ia melakukan kegiatan yang negatif maka lingkungan dapat terganggu. Seringkali perbuatan negatif ini hanya terdorong rasa iseng saja. Tindakan iseng ini selain untuk mengisi waktu juga tidak jarang dipergunakan para remaja untuk menarik perhatian lingkungannya. Perhatian yang diharapkan dapat berasal dari orangtuanya maupun kawan sepermainannya. Celakanya, kawan sebaya sering menganggap iseng berbahaya adalah salah satu bentuk pamer sifat jagoan yang sangat membanggakan. Misalnya, ngebut tanpa lampu dimalam hari, mencuri, merusak, minum minuman keras, obat bius, dan sebagainya.Munculnya kegiatan iseng tersebut selain atas inisiatif si remaja sendiri, sering pula karena dorongan teman sepergaulan yang kurang sesuai. Sebab dalam masyarakat, pada umunya apabila seseorang tidak mengikuti gaya hidup anggota kelompoknya maka ia akan dijauhi oleh lingkungannya. Tindakan pengasingan ini jelas tidak mengenakkan hati si remaja, akhirnya mereka terpaksa mengikuti tindakan kawan-kawannya. Akhirnya ia terjerumus. Tersesat. Oleh karena itu, orangtua hendaknya memberikan pengarahan yang berdasarkan cinta kasih bahwa sikap iseng negatif seperti itu akan merugikan dirinya sendiri, orangtua, maupun lingkungannya. Dalam memberikan pengarahan, orangtua hendaknya hanya membatasi keisengan mereka. Jangan terlalu ikut campur dengan urusan remaja. Ada kemungkinan, keisengan remaja adalah semacam ‘refreshing’ atas kejenuhannya dengan urusan tugas-tugas sekolah. Dan apabila anak senang berkelahi, orangtua dapat memberikan penyaluran dengan mengikutkannya pada satu kelompok olahraga beladiri.
    Mengisi waktu luang selain diserahkan kepada kebijaksanaan remaja, ada baiknya pula orangtua ikut memikirkannya pula. Orangtua hendaknya jangan hanya tersita oleh kesibukan sehari-hari. Orangtua hendaknya tidak hanya memenuhi kebutuhan materi remaja saja. Orangtua hendaknya juga memperhatikan perkembangan batinnya. Remaja, selain membutuhkan materi, sebenarnya juga membutuhkan perhatian dan kasih sayang. Oleh karena itu, waktu luang yang dimiliki remaja dapat diisi dengan kegiatan keluarga sekaligus sebagai sarana rekreasi. Kegiatan keluarga ini hendaknya dapat diikuti oleh seluruh anggota keluarga. Kegiatan keluarga dapat berupa pembacaan Paritta bersama di Cetiya dalam rumah ataupun melakukan berbagai bentuk permainan bersama, misalnya scrabble, monopoli, dan lain sebagainya. Kegiatan keluarga dapat pula berupa tukar pikiran dan berbicara dari hati ke hati. Misalnya, dengan makan malam bersama atau duduk santai di ruang keluarga. Pada hari Minggu seluruh anggota keluarga dapat diajak kebaktian di Vihãra setempat. Mengikuti kebaktian, selain memperbaiki pola pikir agar lebih positif sesuai dengan Buddha Dhamma juga dapat menjadi sarana rekreasi. Hal ini dapat terjadi karena di Vihãra kita dapat berjumpa dengan banyak teman dan juga dapat berdiskusi Dhamma dengan para Bhikkhu maupun pandita yang dijumpai. Selain itu, dihari libur, seluruh anggota keluarga dapat bersama-sama pergi berenang, jalan-jalan ke taman ria atau mal, dan lain sebagainya.
  4. UANG SAKU
    Orangtua hendaknya memberikan teladan untuk menanamkan pengertian bahwa uang hanya dapat diperoleh dengan kerja dan keringat. Remaja hendaknya dididik agar dapat menghargai nilai uang. Mereka dilatih agar mempunyai sifat tidak suka memboroskan uang tetapi juga tidak terlalu kikir. Anak diajarkan hidup dengan bijaksana dalam mempergunakan uang dengan selalu menggunakan prinsip hidup ‘Jalan tengah’ seperti yang diajarkan oleh Sang Buddha.Ajarkan pula anak untuk mempunyai kebiasaan menabung sebagian dari uang sakunya. Menabung bukanlah pengembangan watak kikir, melainkan sebagai bentuk menghargai uang yang didapat dengan kerja dan semangat. Pemberian uang saku kepada remaja memang tidak dapat dihindarkan. Namun, sebaiknya uang saku diberikan dengan dasar kebijaksanaan. Jangan berlebihan. Uang saku yang diberikan dengan tidak bijaksana akan dapat menimbulkan masalah. Yaitu:
    1. Anak menjadi boros
    2. Anak tidak menghargai uang, dan
    3. Anak malas belajar, sebab mereka pikir tanpa kepandaian pun uang gampang.
  5. PERILAKU SEKSUAL
    Pada saat ini, kebebasan bergaul sudah sampai pada tingkat yang menguatirkan. Para remaja dengan bebas dapat bergaul antar jenis. Tidak jarang dijumpai pemandangan di tempat-tempat umum, para remaja saling berangkulan mesra tanpa memperdulikan masyarakat sekitarnya. Mereka sudah mengenal istilah pacaran sejak awal masa remaja. Pacar, bagi mereka, merupakan salah satu bentuk gengsi yang membanggakan. Akibatnya, di kalangan remaja kemudian terjadi persaingan untuk mendapatkan pacar. Pengertian pacaran dalam era globalisasi informasi ini sudah sangat berbeda dengan pengertian pacaran 15 tahun yang lalu. Akibatnya, di jaman ini banyak remaja yang putus sekolah karena hamil. Oleh karena itu, dalam masa pacaran, anak hendaknya diberi pengarahan tentang idealisme dan kenyataan. Anak hendaknya ditumbuhkan kesadaran bahwa kenyataan sering tidak seperti harapan kita, sebaliknya harapan tidak selalu menjadi kenyataan. Demikian pula dengan pacaran. Keindahan dan kehangatan masa pacaran sesungguhnya tidak akan terus berlangsung selamanya.Dalam memberikan pengarahan dan pengawasan terhadap remaja yang sedang jatuh cinta, orangtua hendaknya bersikap seimbang, seimbang antar pengawasan dengan kebebasan. Semakin muda usia anak, semakin ketat pengawasan yang diberikan tetapi anak harus banyak diberi pengertian agar mereka tidak ketakutan dengan orangtua yang dapat menyebabkan mereka berpacaran dengan sembunyi-sembunyi. Apabila usia makin meningkat, orangtua dapat memberi lebih banyak kebebasan kepada anak. Namun, tetap harus dijaga agar mereka tidak salah jalan. Menyesali kesalahan yang telah dilakukan sesungguhnya kurang bermanfaat. Penyelesaian masalah dalam pacaran membutuhkan kerja sama orangtua dengan anak. Misalnya, ketika orangtua tidak setuju dengan pacar pilihan si anak. Ketidaksetujuan ini hendaknya diutarakan dengan bijaksana. Jangan hanya dengan kekerasan dan kekuasaan. Berilah pengertian sebaik-baiknya. Bila tidak berhasil, gunakanlah pihak ketiga untuk menengahinya. Hal yang paling penting di sini adalah adanya komunikasi dua arah antara orangtua dan anak. Orangtua hendaknya menjadi sahabat anak. Orangtua hendaknya selalu menjalin dan menjaga komunikasi dua arah dengan sebaik-baiknya sehingga anak tidak merasa takut menyampaikan masalahnya kepada orangtua.
    Dalam menghadapi masalah pergaulan bebas antar jenis di masa kini, orangtua hendaknya memberikan bimbingan pendidikan seksual secara terbuka, sabar, dan bijaksana kepada para remaja. Remaja hendaknya diberi pengarahan tentang kematangan seksual serta segala akibat baik dan buruk dari adanya kematangan seksual. Orangtua hendaknya memberikan teladan dalam menekankan bimbingan serta pelaksanaan latihan kemoralan yang sesuai dengan Buddha Dhamma. Sang Buddha telah memberikan pedoman untuk bergaul yang tentunya juga sesuai untuk pegangan hidup para remaja. Mereka hendaknya dididik selalu ingat dan melaksanakan Pancasila Buddhis. Pancasila Buddhis atau lima latihan kemoralan ini adalah latihan untuk menghindari pembunuhan, pencurian, pelanggaran kesusilaan, kebohongan, dan mabuk-mabukan. Dengan memiliki latihan kemoralan yang kuat, remaja akan lebih mudah menentukan sikap dalam bergaul. Mereka akan mempunyai pedoman yang jelas tentang perbuatan yang boleh dilakukan dan perbuatan yang tidak boleh dikerjakan. Dengan demikian, mereka akan menghindari perbuatan yang tidak boleh dilakukan dan melaksanakan perbuatan yang harus dilakukan.

FRIENDSHIPS - PRINSIP PERGAULAN BAGI REMAJA

Pergaulan adalah bagian yang tak bisa terpisahkan dari kehidupan kita manusia, kususnya bagi anak-anak kita yang sedang memasuki masa remaja. Artist Joan Baez menuliskan sayair yang telah digubah menjadi satu lagu berjudul No Man Is an Island inilah sebagian dari syair lagu itu :
No man is an Island, No man stand alone Each Man’s Joy is Joy tome, Each man’s grief is my own
We need one another, So I will defend
Each man as my brother, Each man as my friend. (Dan seterusnya )
Kita semua perlu menyadari bahwa ungkapan tidak seorangpun seperti sebuah pulau yang sanggup hidup sendiri tanpa kawan dan sahabat itu memang benar, karena kita adalah makhuk yang harus hidup bersosial. Namun Sekalipun Lagu yang berjudul No man is an Island ini telah banyak digemari oleh orang-orang muda bahkan telah dijadikan Ringtones HP milik sebagian orang-orang muda. Namun bila kita simak baik baik bagian akhir dari penggalan syair ini yang berbunyi Each man as my brother, Each man as my friend, tidaklah cocok dengan prinsip-prinsip pergaulan orang muda Kristen. Untuk memastikan apakah anak-anak muda telah memiliki pergaulan yang sesuai dengan standart kekristenan mari kita simak prinsip- prinsip pergaulan berikut ini:
1. Dalam bergaul, Remaja harus memiliki daftar orang- orang tertentu yang
sebaiknya dijauhi. Maksudnya adalah Remaja tidak boleh bebas bergaul dengan siapa saja. Sama seperti orang tua dan siapa saja kita manusia juga tidak boleh bergaul bebas dengan siapa saja. Didalam bergaul kita harus selektif dalam memilih siapa yang layak menjadi sahabat dan siapa yang selayaknya kita jahui. Lalu seperti apakah panduan dalam memilih kawan yang selektif itu? Inilah daftar orang-orang yang sebaiknya remaja jahui dalam pergaulan.
a. Sahabat/ teman yang berusaha menjerumuskan kita kedalam pelanggaran hukum Tuhan dan hukum manusia. Misalnya saja teman yang coba menjerumuskan kita untuk Berbohong, mencontek, mencuri, berkelai, memusui sesama, meminum minuman keras, merokok, menggunakan Narkotika. Teman yang seperti ini perlu kita jahui. Karena hanya akan merugikan dan merusak serta menghancurkan masa depan remaja. b. Sahabat/teman yang Melecehkan dan merendahkan kita: Mungkin kita pernah bertemu dengan seorang teman yang sukanya terus terusan merendahkan kita, kata-kata ejekan yang diucapkannya senganja untuk merendahkan kita, ada juga teman yang gantinya memberi semangat dukungan tetapi malah sering, menjatuhkan semangat dan meragaukan kemampuan kita. Bila remaja bergaul dengan teman seperti ini bukan membawa kepada peningkatan diri, dan membangun diri kearah kedewasaan. Untuk itu sikap yang harus dimiliki oleh remaja sebaiknya menolak pergaulan dengan teman semacam inic. Teman yang memanfaatkan kita. Teman seperti ini adalah teman yang menjadikan kita bagaikan sapi perah yang siap untuk dihisap dan dimanfaatkan. Mereka menjadikan kita sebagai pesuruh, kita selalu dipaksa membayar makanan baginya, mengerjakan PRnya. Wah Capek kan? Tanpa saling bergantian untuk saling menolong, membantu, memperbaiki bukanlah persahabatan yang wajar.Apa yang seharusnya dilakukan oleh orangtua? Orang tua harus menolong anak
remajanya untuk merasakan terpenuhinya kebutuhan dikasihi, dihargai, dihormati, dipercayai sejak anak anak masih kecil. Dan selanjutnya saat anak mengijak remaja orang tua bisa menolong remaja untuk memiliki daftar criteria teman yang layak dijadikan sahabat yang bisa menolong remaja bertumbuh sehat dan wajar melaui pergaulan yang baik. Sehingga kemanapun anak remaja pergi bisa memilih teman dengan criteria yang tepat.2. Prinsip yang kedua, Berpacaran Tidak boleh tetapi Bergaul dengan yang
takseiman boleh, asal mereka bukanlah daftar teman yang harus dijahui. Sekalipun beda agama remaja sebaiknya diijinkan bergaul dengan mereka. Hal ini sangat penting sebagai sesame ciptaan Tuhan bisa menjalin relasi yang kuat dan saling mengisi dan dapat memper indah dan memperkaya kehidupan masing masing. Kalau remaja tidak mempunyai pergaulan yang cukup luas, maka dikawatirkan cara pandangnya akan sangat terbatas, dan juga toleransi terhadap sesame manusia akan menjadi sangat lemah. Hal ini kelak akan bisa menyebabkan cara pengambilan keputusanya menjadi sangat sederhana. Pergaulan yang baik bisa dijadikan oleh remaja Kristen sebagai tempat untuk bersaksi, bagaimana seorang Kristen hidup ditengah-tengah masyarakat.
Apa yang seharus dilakukan oleh orangtua? Sebelum anak menginjak
remaja dan bergaul dengan teman-teman yang memiliki berbagai latar belakang agama, seyogyanya orang tua sudah terlebih dahulu menanamkan prinsip-prinsip kebenaran yang jelas dan kokoh kepada anak, sehingga saat iman diuji dalam pergaulan remaja mereka dengan pertolongan Tuhan akan seperti Daniel dan kawan-kawannya saat di Babelonia.
3. Remaja sebaiknya Boleh menjalin persahabatan dengan lawan jenis,
Tetapi sebaiknya tidak untuk pacaran hingga memasuki usia Pemuda. Usia remaja sebaiknya adalah usia membangun hubungan seluas luasnya dengaan sesama jenis dan dengan lain jenis tanpa harus diikat dengan ikatan khusus yaitu hubungan romantis. Ada banyak kekayaan dan manfaat diperoleh remaja dari pergaulan kelompok sejenis maupun antar jenis kelamin ini. Anda masih ingat saat remaja dulu bahwa hubungan-hubungan sederhana dengan seorang kawan adalah penting dan itu bagian dari struktur pertumbuhan yang harus dijalani tiap tiap remaja. Hubungan sederhana itu melatih atau merintis jalan kepada hubungan kompleks diusia dewasa kelak.
Bagi remaja Sekedar berbicara saja dengan lawan jenis itu sangat berarti, bagi pertumbuhan mereka, oleh karena berkomunikasi yang dengan santun yang dilakukan sejak usia sangat muda akan sangat membantu dimasa transisi atau peralihan yang lebih normal dikemudian hari. Karena dijaman yang penuh dengan alat komunikasi yang serba canggih ini ternyata kita bisa banyak temukan baik dirumah tangga atau di tengah-tengah masyarakat, ada orang-orang yang tidak sanggup mengkomunikasikan keinginanya dengan santun dan baik. Mereka berunjuk rasa tetapi dengan cara yang anarkis, merusak, menyakiti, menghancurkan dan dipenuhi dengan dendam dan amarah. Hal ini adalah tanda dari gagalnya pembinaan komunikasi yang santun itu sejak dirumah dan disaat mereka usia remaja.
Jadi sangatlah penting pergaulan yang sehat itu dilatih dan dimiliki oleh anak remaja kita. Namun bila semasih remaja anak langsung membina hubungan special, exclusive dengan seorang lawan jenis, sesungguhnya mereka akan langsung kehilangan manfaat dari pergaulan yang aman, penuh keceriaan. Banyak orang salah langkah bahkan juga salah pilih teman hidup atau bahkan terpaksa hidup membujang seumur hidup oleh karena gagal membina friendship diusia remaja.
Apa peran dan fungsi yang seharusnya dilakukan oleh orang tua. Tiga peran dan fungsi orang tua: a. Pengasuh, berarti orang tua memberikan gizi, baik gizi jasmaniah atau pun gizi batiniah dan rohani kepada anak, sehingga anak bisa bertumbuh besar menjadi orang yang stabil dan cukup sehat.
b. Pengarah dan pendamping, artinya pada masa ini orang tua akan menjadi konselor bagu anak, memberikan arahan-arahan dan secara aktif orang tua memantau perkembangan anak.
c. Penasihat atau konsultan, secara pasif orang tua memberikan masukan kepada anak. Peran ini dilakukan oleh orang tua saat anak sudah dewasa, biarkan anak yang datang mencari kita, barulah kita memberikan masukan tatkala mereka datang kepada kita. Dan janganlah perlakukan anak yang kini sudah dewasa seperti anak kecil lagi.4. Prinsip yang keempat: Ada Tempat-tempat dan Aktifitas-aktifitas yang
tidak selayaknya dilakukan dan kunjungi oleh Remaja. Ada tempat dan Aktifitas tertemtu yang memang tidak boleh remaja kunjungi dan lakukan karena bila dilanggar akan berdampak pada buruk kepada remaja dan masa depan mereka. Misalnya saja dilarang bermain judi, nonton film porno, melihat gambar-gambar porno, atau membuka situs-situs porno, merokok, minum minuman keras, mengkonsumsi narkoba, walaupun hanya sekedar mengantar seorang teman ketempat seperti itu dan meskipun hanya teman-temannya yang melakukan. Ada remaja yang berfikir kita tidak akan terjatuh dengan hanya melihat sekali saja. Pendapat seperti itu adalah sangat berbahaya, karena setan sedang bekerja keras untuk menjatuhkan seriap orang muda. Apalagi bila aktifitas seperti itu dilakukan berulang ulang bisa saja satu kali kelak kita akan tergoda dan jatuh dalam tindakan yang salah dan berdosa.

Biaya Pendidikan sebagai Beban Kemitraan

Orang tua siswa sedang berjibaku dengan perasaan. Waswas bercampur stres. Bayangan dan harapannya adalah si anak bisa sekolah berkualitas dengan biaya murah. Ini hukum ekonomi pula. Ingin mendapatkan jasa bermutu dengan ongkos rendah.
Persoalannya, tak semudah yang dibayangkan harapan itu bisa terwujud. Jauh lebih banyak harapan yang tidak terwujud. Lebih besar orang tua murid yang gagal. Tak mendapatkan sekolah berkualitas dengan biaya murah. Kalaupun dapat yang berkualitas, biaya yang dikeluarkan amat mahal.
Biaya pendidikan yang terus melambung setiap tahun menjadi masalah yang sulit terpecahkan. Sebaliknya, upaya pemerintah untuk meningkatkan anggaran pendidikan nasional sebesar 20 persen dari jumlah APBN -yang diamanatkan UUD 1945- sampai sekarang belum bisa diwujudkan.
Karena biaya yang terus merangkak naik, sedangkan pemerintah belum bisa meningkatkan anggaran pendidikan nasional, mau tidak mau yang terkena beban kenaikan pembiyaan adalah orang tua siswa.
Memang, kenaikan biaya pendidikan yang dipikul orang tua siswa tidak selalu bersangkut paut langsung dengan pungutan atau biaya tertentu yang diminta pihak sekolah. Sebagian kenaikan biaya pendidikan disebabkan adanya kenaikan biaya kebutuhan siswa yang memang menjadi tanggungan orang tua.
Apa pun persoalannya, kenaikan biaya pendidikan yang terus berlangsung tiap tahun merupakan beban finansial dan psikologis bagi hampir semua orang tua siswa. Sebab, tidak banyak pilihan untuk menghindar. Tidak banyak pilihan untuk mendapatkan pendidikan berkualitas dengan biaya relatif murah.
Kalau demikian halnya, bagaimana masalah ini dicarikan solusi? Mungkin sudah waktunya ada semacam terobosan yang inovatif untuk mendorong tumbuhnya kesadaran semua orang -di negeri ini-, semua lembaga, dan semua pihak untuk turut meringankan beban pembiayaan pendidikan.
Meringankan biaya pendidikan bukan berarti pihak-pihak lain perlu diajak mengeluarkan bantuan biaya. Meringankan itu bisa berupa partisipasi aktif menunjang program-program pendidikan dan penyediaan sarana belajar-mengajar di sekolah.
Menyediakan program buku murah, misalnya. Mungkin asosiasi orang tua siswa perlu dibentuk -tidak harus berupa komite sekolah yang dibentuk secara formal seperti yang sudah berjalan selama ini- guna mendapatkan akses yang lebih mudah dan terbuka dengan penerbit buku.
Para orang tua siswa perlu membentuk kemitraan yang sinergis untuk mencari peluang mendapatkan perangkat keras alat-alat peraga, sarana tulis-menulis, dan perangkat-perangkat lain langsung ke pihak pembuat atau produsennya.
Ikhtiar ini bukan berarti peluang harus diciptakan dengan gratis atau meminta-minta. Bersamaan dengan itu, hal tersebut juga menjadikan perusahaan-perusahaan pembuat alat-alat peraga dan produsen sarana belajar-mengajar sebagai mitra sinergis sekolah.
Dengan ikhtiar semacam itu, amanat UU Sistem Pendidikan Nasional tentang otonomi sekolah di satu pihak dan tanggung jawab bersama pemerintah, sekolah, keluarga, serta masyarakat untuk bertanggung renteng memajukan pendidikan nasional di pihak lain diharapkan bisa terwujud. (*)

Pengaruh & Peranan Orang Tua Dalam Pendidikan

Peranan kedua orang tua dalam pendidikan sangatlah besar dan pengaruhnya dalam meninggikan kemauan anak sangat begitu penting dan menentukan. Jika kedua orang tua memberi teladan dalam kebajikan, senantiasa memperhatikan pendidikan anak, dan berusaha menumbuhkan mereka dengan akhlak yang mulia serta menjauhkan mereka dari segala akhlak yang buruk dan perbuatan yang tidak terpuji, maka hal itu akan memiliki pengaruh yang sangat besar dalam jiwa anak-anak. Karena anak-anak cenderung merindukan kepada kepahlawanan, menyukai hal-hal yang mulia, menyenangi akhlak yang terpuji, membenci perkara yang tercela dan lari dari akhlak yang tercela.
Saya jadi teringat keponakan saya, Zufar, di Surabaya. Ketika masih kecil umur-umuran 3.5 tahunan sudah shalat wajib lima waktu, lucunya sebelum sholat dia mesti naik ke kamarnya di lantai 2 dan adzan dengan suara khasnya yang kuenceng. Kemudian iqomat sendiri dan shalat sendiri sebagai imam, tidak mau jadi makmum, dengan dikeraskan atau dilemahkannya bacaannya mengikuti kaedah yang benar, -mungkin dah dikasih tahu ibunya kali-. Tapi kalau saya sedang main kesana, dia selalu ikut saya ke masjid, dan selalunya ingin sholat di depan belakang imam persis, walaupun nantinya digeser jama’ah lain karena mungkin dianggap terlalu kecil, -kacihan deh…, gumam hati saya-.
Mengenai suaranya yang khas, kuenceng ketika amiin… sempat membuat kangen para jama’ah yang kebanyakan dah berumur. Waktu itu hari terakhir keluarga kakak saya tinggal di rumah kontrakan, besoknya dah pindahan ke rumah sendiri. Waktu sholat isyak Zufar ikut saya ke masjid, ketika kami mau pulang, kami pamitan sekalian kepada jama’ah masjid. Pak Imam dan Bu Imam yang sedang duduk-duduk di serambi masjid langsung bilang (kurang-lebihnya, dah agak lupa), “Wah suaranya kuenceng sekali kalo amiin, ngangeni suaranya, mungkin malahan dia yang amin nya diamini malaikat dan dikabulkan Allah Ta’ala, karena belum punya dosa“, benar juga ya dalam hati saya. Suaranya yang kas ini, menjadi menarik ketika dia adzan subuh dan membaca alfatihah + surat pendek dengan kerasnya waktu sholat subuh. Sampai seorang bapak yang dah sepuh tetangga rumah bilang, “wah mas Zufar kalau subuh mbangunkan mbah ya..”  Tapi sekarang dia dah kelas 1 2 SD di al-Hikmah Surabaya, dan mungkin wis duwe dugho sehingga kebiasaan adzan ketika kecil dah dilupakannya atau mungkin malu ya..??.
Si Zufar juga dah pandai mbaca ketika umur-umur 3.5 tahunan lho. Waktu itu dia diajak ibunya untuk periksa giginya yang silver queen ke dokter gigi, mungkin lagi seneng2nya mbaca ya, eh ketika di ruangan dokter dia mengeja tulisan yang ada di ruangan. Sehingga pak dokter berkomentar, “eh kecil-kecil dah pandai mbaca“. Si kecil ini juga dah pandai mbaca al-Qur’an dan hafalannya sangat kuat, sehingga banyak hafal surat-surat di Juz’amma. Saya teringat juga waktu  dulu menjaganya, saya perdengarkan murottal al-Qur’an oleh qari’ Musyari Rashid al-Fasi, eh masyaaAllah air matanya mengalir, seolah dia faham dan terhanyut oleh syahdu nya suara Musyari, saya jadi iba melihatnya kala itu. Ternyata si Zufar punya jiwa yang halus dan sangat hanif, dan sampai sekarangpun dia masih suka dengar murottal al-Qur’an, alhamdulillah.
Banyak hal-hal yang lucu dan bagus dari si Zufar ini, yang mungkin kalau ortunya bisa menjaga fitrahnya sampai besar nanti, alangkah bagusnya dan mungkin akan menjadi seorang yang ‘alim. Misalnya, kalau dia ke rumah mbahnya di Karanganyar-Solo yang dekat dengan masjid, pasti kalau sedang main dan mendengar adzan akan pergi ke masjid & mengajak kawan-kawannya. Ketika adzan subuhpun, dia langsung bangun dan lari ke masjid, padahal anak seumurannya biasanya masih pada tidur, sehingga bapaknya yang kawatir jadi ikutan ke mesjid, mengikutinya dari belakang.
Si kecil Zufar juga seorang yang dermawan, ortunya memang sejak dulu mengharapkan anaknya jadi orang yang dermawan dan suka membantu. Sehingga kalau mobil kita lewat salah satu rel kereta api di Ketintang yang tidak ada penghalangnya dan ada sukarelawan yang siang-malam menjaganya pasti Zufar disuruh ngasihkan uang ke penjaganya. Ortunya juga selalu menyediakan suatu tempat uang recehan di rumahnya untuk diberikan kepada pengemis yang kebetulan mampir ke rumah, dan si Zufar lah yang aktif memberikan uangnya kepada pengemis-pengemis itu. Suatu pendidikan moral-value: kedermawanan sejak dini yang sangat bagus.
Karena sifat dermawannya itu, kalau ada kawannya main ke rumah, semua mainannya pasti di keluarkan. Sehingga tak heran kata guru-gurunya di SD Al-Hikmah, di sekolah Zufar disenangi teman-temanya dan pandai bergaul. Laa wong kalau dia ke mbah nya di Karanganyar pasti kawan-kawan kampungnya pada berdatangan. Selamat deh untuk Zufar, semoga menjadi orang ‘alim yang ngamal dan orang kaya yang dermawan, sebagaimana hal tersebut dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan sesuatu yang kita boleh iri bila ada pada diri seseorang (ghibthoh).
Ana masih ingat ketika dia masih bayi, betapa setiap malam mesti nangis, sehingga ibunya harus rela tidak tidur semalaman, padahal paginya harus ngantor dengan profesinya sebagai programmer, -ternyata kaum Hawa terkadang jauh lebih kuat daripada kaum Adam ya..-. Mungkin karena hidup di kota besar yang individual, Zufar kecil tak punya kawan seumuran dengannya sehingga sering kesepian. Ketika berumur 3.5 tahunan akhirnya dimasukkan ke playgroup walaupun waktu itu belum bisa ngomong. Tapi saya salut dengan PD-nya, kalau guru menawarkan kepada murid-murid untuk maju kedepan entah untuk nyanyi atau apa, dia pasti angkat tangan nomor 1, walaupun akhirnya di depan cuma diam, laa ngomong aja belum bisa. Ternyata dia mempunyai gejala autis, dan untung ortunya cepat tanggap sehingga bisa tertangani sejak dini. Saya masih ingat ketika waktu itu pulang dari M’sia dan si Zufar ikut menjemput di bandara, dan seingat saya dia tak pernah absen mengantar-jemput saya kalau saya pulang-balik ke negeri jiran ini. Di tengah perjalanan bapaknya bilang, “Om sekarang mas Zufar dah pandai ngomong“. Dan saya dengarkan sendiri dia berceloteh dengan lancarnya.
Kalau sifat PD nya kayaknya masih langgeng sampai sekarang. Belum lama ini saya pulang ke Karanganyar dan baliknya ke Surabaya ikutan kakak yang lagi mudik. Kemudian diperjalanan kita biasanya istirahat untuk makan dan shalat, ana iqomat dan biasanya kakak ipar saya yang menjadi imam. Iseng-iseng saja (canda doang), saya ngomong, “Ayo mas Zufar jadi Imam“. Eh dengan malu-malu dia maju beneran dan ketika sudah takbiratul ikram saya tarik dia sambil ketawa, PD banget anak ini gumam saya dalam hati. Bisa berabe anak kecil ini ngimami kita-kita yang dah makan garam, -walaupun dibolehkan kalau memang hafalan & pemahamannya lebih bagus dari kita-. Ngomong-ngomong dia juga sudah faham dan mengamalkan keringanan untuk menjamak & qashar sholat ketika dalam perjalanan. Mungkin karena seringnya dia safar ke rumah mbahnya di Karanganyar dan Temanggung kali, subhanallah!.
Yang jadi fokus perhatian saya terhadap si Zufar ini sebenarnya adalah bahwa sikap & perilaku dia yang demikian ini tak lepas dari peran ortunya, terutama ibunya yang selalu mendongenginya dengan dongeng-dongeng kepahlawanan ketika mau tidur. Pernah kok dia nangis uring-uringan, mungkin waktu itu dia lagi tidak mood, disuruh subuhan agak malas-malas, akhirnya oleh ibu nya dikasih jentik, padahal biasanya dikasih jempol. Wah jadi ramai tu rumah dengan jerit-tangis Zufar. Dia minta ibu nya ngulang sholat subuh lagi dengannya, wah..wah.. si Zufar, smoga dapat jempol terus deh.
Juga sifatnya ketika bayi yang selalu nangis itu adalah bawaan ibunya yang juga selalu nangis ketika bayi, kata bapak, mbah, om-om dan bulik-bulik saya. Kalau ibunya dulu ketika kecil habis tidur-waktu subuh suka menyanyi “Nina bobok Bobby sudah besar…, tidak boleh nakal“, kata bapak saya, sedang anaknya habis tidur-waktu subuh suka adzan, he..he… Bawaan ni ye ! :) .
Kembali ke tema asal. Kemudian, kualitas orang tua akan menular kepada anaknya, bahkan kecerdasan orang tua pun sangat berpengaruh dalam jiwa anak. Jadi, salah satu hal yang dapat mempersiapkan anak untuk menjadi cerdas ialah agar orang tua atau kakek mendahuluinya dengan kecerdasan. Sebab seringnya nama para pendahulunya yang pandai disebut-sebut di telinganya dan memperhatikan sebagian dampak kecerdasannya, maka keduanya dapat mempengaruhi kemauannnya dan memacu semangatnya; untuk mengikuti jejak para pendahulunya mendapatkan kedudukan yang mulia dan nama yang harum.
Berapa besarnya pengaruh kedua orang tua dalam pendidikan dan dalam jiwa anak-anak, seperti perihal salaf shalih kita yang telah mengeluarkan kepada kita generasi yang mulia, dan memberikan kepada kita generasi paling utama yang tidak seorang pun dapat menandinginya dalam keutamaan dan kemuliaan.
Siapakah yang berada dibalik pahlawan-pahlawan itu?. Dan siapakah yang mencetak mereka itu?. Jika kita tengok ihwal mereka dan mengikuti perjalanan mereka, niscaya kita ketahui bahwa di balik masing-masing mereka terdapat orang tua yang agung atau ibu yang agung yang mendidik anak-anak mereka untuk meraih kesempurnaan dan kemuliaan.
Dialah Amirul Mukminin Abul Hasan ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhum, ia berpindah-pindah dalam pendidikannya di antara dua belaian dada yang penuh hikmah dan mengasuhnya dengan akhlak yang agung dan mulia. Pertama ia disuapi oleh ibunya, Fathimah binti Asad, dan diasuh oleh ummul mukminin Khadijah binti Khuwalaid radhiyallahu ‘anha.
Inilah Amirul Mukminin, genius Arab, Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu ‘anhu. Di belakangnya ada ibu yang agung, Hindun binti ‘Utbah. Saat dikatakan kepadanya sementara Mu’awiyah masih bayi, “Jika ia hidup, maka ia akan memimpin kaumnya“. Maka ia (ibunya) menimpali, “Ibunya akan kehilangan dia, jika ia hanya memimpin kaumnya“.
Adalah Mu’awiyah bila diberi suatu kebanggaan dan dipuji karena kepiawaian pendapatnya, maka ia menisbatkan dirinya kepada ibunya. Lantas ia mengejutkan pendengaran para musuhnya dengan mengucapkan, “Aku adalah putra Hindun“. [1]
Dan inilah Abdullah bin Az-Zubair radhiyallahu ‘anhu, dibelakangnya ada ibu besar, mulia dan pemberani, Asma bin Abi Bakar Ash-Shidiq radhiyallahu ‘anhum.
Asma’ pernah berkata, saat ia diberi kabar kematian putranya Abdullah bin Az-Zubair, “Apa yang menghalangiku untuk sabar, padahal kepala nabi Yahya bin Zakariya telah diserahkan kepada seorang pelacur bani Israil“. Ia pun sebelumnya juga berkata, ketika putranya meminta pendapatnya untuk memerangi Hajjaj Ats-Tsaqafi, “Pergilah!!. Demi Allah, ditebas dengan pedang demi kemuliaan adalah lebih utama daripada dipecut dengan cemeti demi kehinaan“. [2].
Smoga kita bisa meneladaninya, terutama kaum Hawa.., ditangan kalian lah masa depan generasi umat ini…

Peran orang Tua Dalam Pendidikan Anak

Sulaiman Zein
Pendidikan merupakan hal terbesar yang selalu diutamakan oleh para orang tua. Saat ini masyarakat semakin menyadari pentingnya memberikan pendidikan yang terbaik kepada anak-anak mereka sejak dini. Untuk itu orang tua memegang peranan yang sangat penting dalam membimbing dan mendampingi anak dalam kehidupan keseharian anak. Sudah merupakan kewajiban para orang tua untuk menciptakan lingkungan yang kondusif sehingga dapat memancing keluar potensi anak, kecerdasan dan rasa percaya diri. Dan tidak lupa memahami tahap perkembangan anak serta kebutuhan pengembangan potensi kecerdasan dari setiap tahap.

Ada banyak cara untuk memberikan pendidikan kepada anak baik formal maupun non formal. Adapun pendidikan formal tidak sebatas dengan memberikan pengetahuan dan keahlian kepada anak-anak mereka di sekolah. Selain itu pendidikan non formal menanamkan tata nilai yang serbaluhur atau ahlak mulia, norma-norma, cita-cita, tingkah laku dan aspirasi dengan bimbingan orang tua di rumah.

Sekolah sebagai salah satu sarana pendidikan formal memerlukan banyak hal yang mendukung yaitu antara lain kepentingan dan kualitas yang baik dari kepala sekolah dan guru, peran aktif dinas pendidikan/pengawas sekolah, peran aktif orangtua dan peran aktif masyarakat sekitar sekolah. Akan tetapi orang tua juga tidak dapat menyerahkan sepenuhnya pendidikan anak kepada sekolah. Pendidikan anak dimulai dari pendidikan orang tua di rumah dan orang tua yang mempunyai tanggung jawab utama terhadap masa depan anak-anak mereka, sekolah hanya merupakan lembaga yang membantu proses tersebut. Sehingga peran aktif dari orang tua sangat diperlukan bagi keberhasilan anak-anak di sekolah.

Ada beberapa cara dalam meningkatkan peran orang tua terhadap pendidikan anak-anak mereka. Pertama, dengan mengontrol waktu belajar dan cara belajar anak. Anak-anak diajarkan untuk belajar secara rutin, tidak hanya belajar saat mendapat PR dari sekolah atau akan menghadapi ulangan. Setiap hari anak-anak diajarkan untuk mengulang pelajaran yang diberikan oleh guru pada hari itu. Dan diberikan pengertian kapan anak-anak mempunyai waktu untuk bermain.

Kedua, memantau perkembangan perkembangan kemampuan akademik anak. Orang tua diminta untuk memeriksa nilai-nilaii ulangan dan tugas anak mereka.

Ketiga, memantau perkembangan kepribadian yang mencakup sikap, moral dan tingkah laku anak-anak. Hal ini dapat dilakukan orang tua dengan berkomunikasi dengan wali kelas untuk mengetahui perkembangan anak di sekolah.

Keempat, memantau efektifitas jam belajar di sekolah. Orang tua dapat menanyakan aktifitas yang dilakukan anak mereka selama berada di sekolah. Dan tugas-tugas apa saja yang diberikan oleh guru mereka. Kebanyakan siswa tingkat SMP dan SMA tidak melaporkan adanya kelas-kelas kosong dimana guru mereka berhalangan hadir. Sehingga pembelajaran yang ideal di sekolah tidak terjadi dan menjadi tidak efektif.

Selain semua hal tersebut di atas ada beberapa hal lain perlu diperhatikan yaitu membantu anak mengenali dirinya (kekuatan dan kelemahannya), membantu anak mengembangkan potensi sesuai bakat dan minatnya, membantu meletakkan pondasi yang kokoh untuk keberhasilan hidup anak dan membantu anak merancang hidupnya.

Pada banyak kasus, orang tua sering memaksakan kehendak mereka terhadap anak-anak mereka tanpa mengindahkan pikiran dan suara hati anak. Orang tua merasa paling tahu apa yang terbaik untuk anak-anak mereka. Hal ini sering dilakukan oleh orang tua yang berusaha mewujudkan impian mereka, yang tidak dapat mereka raih saat mereka masih muda, melalui anak mereka. Kejadian seperti ini tidak seharusnya terjadi jika orang tua menyadari potensi dan bakat yang dimiliki oleh anak mereka. Serta memberikan dukungan moril dan sarana untuk membantu anak mereka mengembangkan potensi dan bakat yang ada.

Kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh orang tua dan harus dihindari dalam mendidik anak mereka, antara lain menumbuhkan rasa takut dan minder pada anak, mendidik anak menjadi sombong terhadap orang lain, membiasakan anak hidup berfoya-foya, selalu memenuhi permintaan anak, terutama ketika anak sedang menangis, terlalu keras dan kaku dalam menghadapi anak, terlalu pelit terhadap anak (melebihi batas kewajaran), tidak mengasihi dan menyayangi mereka sehingga mereka mencari kasih sayang diluar rumah, orang tua hanya memperhatikan kebutuhan jasmaninya saja, orang tua terlalu berprasangka baik kepada anak-anak mereka.

Untuk itu sudah menjadi kewajiban orang tua untuk juga belajar dan terus menerus mencari ilmu, terutama yang berkaitan dengan pendidikan anak. Agar terhindar dari kesalahan dalam mendidik anak yang dapat berakibat buruk bagi masa depan anak-anak. Orang tua harus lebih memperhatikan anak-anak mereka, melihat potensi dan bakat yang ada di diri anak-anak mereka, memberikan sarana dan prasarana untuk mendukung proses pembelajaran mereka di sekolah. Para orang tua diharapkan dapat melakukan semua itu dengan niat yang tulus untuk menciptakan generasi yang mempunyai moral yang luhur dan wawasan yang tinggi serta semangat pantang menyerah