Albert Bandura (1925 - ..)
Bandura lahir di Canada, memperoleh gelar Ph. D dari University of Iowa dan kemudian mengajar di Stanford Uni.
Sebagai seorang behaviorist, Bandura menekankan teorinya pada proses belajar tentang respon lingkungan. Oleh karenya teorinya disebut teori belajar sosial, atau modeling.
Prinsipnya adalah perilaku merupakan hasil interaksi resiprokal antara pengaruh tingkah laku, koginitif dan lingkungan. Singkatnya, Bandura menekankan pada proses modeling sebagai sebuah proses belajar.
Teori utama :
Observational learning atau modeling adalah faktor penting dalam proses belajar manusia.
Dalam proses modeling, konsep reinforcement yang dikenal adlaah vicarious reinforcement, reinforcement yang terjadi pada orang lain dapat memperkuat perilaku individu. Self-reinforcement, individu dapat memperoleh reinforcement dari dalam dirinya sendiri, tanpa selalu harus ada orang dari luar yang memberinya reinforcement.
Menekankan pada self-regulatory learning process, seperti self-judgement, self-control, dan lain sebagainya.
Memperkenalkan konsep penundaan self-reinforcement demi kepuasan yang lebih tinggi di masa depan
Sumbangan Bandura:
Bandura membuka perspektif baru dalam aliran behavioristik dengan menekankan pada aspek observasi dan proses internal individu. Bagi mereka yang beraliran kognitif, pandangan Bandura ini dirasakan lebih lengkap dibandingkan pandangan ahli behavioristik lainnya.Teorinya ini juga didukung oleh percobaan eksperimental yang dapat dipertanggungjawabkan
Kritik terhadap Bandura
Kritik terutama datang dari kelompok aliran behavioristik keras, yang memandang Bandura lebih tepat untuk dimasukan dalam kelompok aliran kognitif dan tidak diakui sebagai bagian dari behavioristik. Penyebab utamanya karena pandangan Bandura yang kental aspek mentalnya.
Sugeng Rawuh
Rabu, 08 Juni 2011
Pengaruh Musik Terhadap Perkembangan Kognitif dan Kecerdasan Emosi
Oleh: Luthfi Seli Fauzi
Kognitif dan Musik
Kognitif merupakan semua proses dan produk pikiran untuk mencapai pengetahuan yang berupa aktivitas mental seperti mengingat, mensimbolkan, mengkategorikan, memecahkan masalah, menciptakan dan berfantasi.
Penelitian menunjukkan bahwa musik dapat memberikan rangsangan-rangsangan yang kaya untuk segala aspek perkembangan secara kognitif dan kecerdasan emosional (emotional intelligent). Roger Sperry (1992) dalam Siegel (1999) penemu teori Neuron mengatakan bahwa neuron baru akan menjadi sirkuit jika ada rangsangan musik sehingga neuron yang terpisah-pisah itu bertautan dan mengintegrasikan diri dalam sirkuit otak, sehingga terjadi perpautan antara neuron otak kanan dan otak kiri itu.
Mengacu pada perkembangan kognitif dari Piaget (1969) dalam teori belajar yang didasari oleh perkembangan motorik, maka salah satu yang penting yang perlu distimulasi adalah keterampilan bergerak. Melalui keterampilan motorik anak mengenal dunianya secara konkrit. Dengan bergerak ini juga meningkatkan kepekaan sensori, dan dengan kepekaan sensori ini juga meningkatkan perkiraan yang tepat terhadap ruang (spatial), arah dan waktu. Perkembangan dari struktur ini merupakan dasar dari berfungsinya efisiensi pada area lain. Kesadaran anak akan tempo dapat bertambah melalui aktivitas bergerak dan bermain yang menekankan sinkronis, ritme dan urutan dari pergerakan. Kemampuan-kemampuan visual, auditif dan sentuhan juga diperkuat melalui aktivitas gerak.
Gallahue, (199
mengatakan, kemampuan-kemampuan seperti ini makin dioptimalkan melalui stimulasi dengan memperdengarkan musik klasik. Rithme, melodi, dan harmoni dari musik klasik dapat merupakan stimulasi untuk meningkatkan kemampuan belajar anak. Melalui musik klasik anak mudah menangkap hubungan antara waktu, jarak dan urutan (rangkaian) yang merupakan keterampilan yang dibutuhkan untuk kecakapan dalam logika berpikir, matematika dan penyelesaian masalah.
Hasil penelitian Herry Chunagi (1996) Siegel (1999), yang didasarkan atas teori neuron (sel kondiktor pada sistem saraf), menjelaskan bahwa neuron akan menjadi sirkuit jika ada rangsangan musik, rangsangan yang berupa gerakan, elusan, suara mengakibatkan neuron yang terpisah bertautan dan mengintegrasikan diri dalam sirkuit otak. Semakin banyak rangsangan musik diberikan akan semakin kompleks jalinan antarneuron itu. Itulah sebenarnya dasar adanya kemampuan matematika, logika, bahasa, musik, dan emosi pada anak.
Selain itu juga, Gordon Shaw (1996) mengatakan kecakapan dalam bidang yakni matematika, logika, bahasa, musik dan emosi bisa dilatih sejak kanak-kanak melalui musik. Dengan melakukan penelitian membagi 2 kelompok yaitu kelas kontrol dan kelas eksperimen melalui pendidikan musik sehingga sirkuit pengatur kemampuan matematika menguat.
Musik berhasil merangsang pola pikir dan menjadi jembatan bagi pemikiran-pemikiran yang lebih kompleks. Didukung pula oleh Martin Gardiner (1996) dalam Goleman (1995) dari hasil penelitiannya mengatakan seni dan musik dapat membuat para siswa lebih pintar, musik dapat membantu otak berfokus pada hal lain yang dipelajari. Jadi, ada hubungan logis antara musik dan matematika, karena keduanya menyangkut skala yang naik turun, yaitu ketukan dalam musik dan angka dalam matematika.
Daryono Sutoyo, Guru Besar Biologi UNS Solo, melakukan penelitian (1981) tentang kontribusi musik yaitu menstimulasi otak, mengatakan bawha pendidikan kesenian penting diajarkan mulai dari tingkat Sekolah Dasar (SD) agar peserta didik sejak dini memperoleh stimulasi yang seimbang antara belahan otak kiri dan belahan otak kanannya. Bila mereka mampu menggunakan fungsi kedua belahan otaknya secara seimbang, maka apabila mereka dewasa akan menjadi manusia yang berpikir logis dan intutif, sekaligus cerdas, kreatif, jujur, dan tajam perasaannya.
Implementasi dari penelitian tersebut, pendidikan kesenian sewaktu di SD mempengaruhi keberhasilan studi pada pendidikan berikutnya yaitu di SMP, dan begitu juga dengan pendidikan kesenian di SMP kan mempengaruhi keberhasilan studi pada masa di SMA. Dan kesenian di SMA, mau tidak mau menjadii factor penentu dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia yang baik.
Musik dan Kecerdasan Emosi
Sternberg dan Salovery (1997) mengemukakan bahwa kecerdasan emosional adalah kemampuan mengenali emosi diri, yang merupakan kemampuan seseorang dalam mengenali perasaannya sendiri sewaktu perasaan atau emosi itu muncul, dan ia mampu mengenali emosinya sendiri apabila ia memiliki kepekaan yang tinggi atas perasaan mereka yang sesungguhnya dan kemudian mengambil keputusan-keputusan secara mantap.
Kemampuan mengelola emosi merupakan kemampuan seseorang untuk mengendalikan perasaannya sendiri sehingga tidak meledak dan akhirnya dapat mempengaruhi perilakunya secara wajar. Misalnya seseorang yang sedang marah maka kemarahan itu tetap dapat dikendalikan secara baik tanpa harus menimbulkan akibat yang akhirnya disesali di kemudian hari.
Kepekaan akan rasa indah timbul melalui pengalaman yang dapat diperoleh dari menghayati musik. Kepekaan adalah unsur yang penting guna mengerahkan kepribadian dan meningkatkan kualitas hidup. Seseorang memiliki kepekaan yang tinggi atas perasaan mereka maka ia akan dapat mengambil keputusan-keputusan secara mantap dan membentuk kepribadian yang tangguh.
Kemampuan motivasi adalah kemampuan untuk memberikan semangat kepada diri sendiri untuk melakukan sesuatu yang baik dan bermanfaat. Dalam hal ini terkandung adanya unsur harapan dan optimisme yang tinggi, sehingga memiliki kekuatan semangat untuk melakukan suatu aktivitas tertentu, misalnya dalam hal belajar. Seperti apa yang kita cita-citakan dapat diraih dan mengisyaratkan adanya suatu perjalanan yang harus ditempuh dari suatu posisi di mana kita berada ke titik pencapaian kita dalam kurun waktu tertentu.
Kemampuan membina hubungan bersosialisasi sama artinya dengan kemampuan mengelola emosi orang lain. Evelyn Pitcer dalam Kartini (1982) mengatakan musik membantu remaja untuk mengerti orang lain dan memberikan kesempatan dalam pergaulan sosial dan perkembangan terhadap emosional mereka.
Remaja, merupakan pribadi sosial yang memerlukan relasi dan komunikasi dengan orang lain untuk memanusiakan dirinya. Remaja ingin dicintai, ingin diakui, dan dihargai. Berkeinginan pula untuk dihitung dan mendapatkan tempat dalam kelompoknya. Jelas bahwa individualitas dan sosialitas merupakan unsur-unsur yang komplementer, saling mengisi dan melengkapi dalam eksistensi remaja.
Kecerdasan emosional perlu dikembangkan karena hal inilah yang mendasari keterampilan seseorang di tengah masyarakat kelak, sehingga akan membuat seluruh potensi anak dapat berkembang secara lebih optimal.
Idealnya seseorang dapat menguasai keterampilan kognitif sekaligus keterampilan sosial emosional. Daniel Goleman (1995) melalui bukunya yang terkenal “Emotional Intelligences (EQ)”, memberikan gambaran spectrum kecerdasan, dengan demikian anak akan cakap dalam bidang masing-masing namun juga menjadi amat ahli. Sebagaimana dikatakan oleh para ahli, perkembangan kecerdasan emosional sangat dipengaruhi oleh rangsangan musik seperti yang dikatakan Gordon Shaw (1996).
Menurut Siegel (1999) ahli perkembangan otak, mengatakan bahwa musik dapat berperan dalam proses pematangan hemisfer kanan otak, walaupun dapat berpengaruh ke hemisfer sebelah kiri, oleh karena adanya cross-over dari kanan ke kiri dan sebaliknya yang sangat kompleks dari jaras-jaras neuronal di otak.
Efek atau suasana perasaan dan emosi baik persepsi, ekspresi, maupun kesadaran pengalaman emosional, secara predominan diperantarai oleh hemisfer otak kanan. Artinya, hemisfer ini memainkan peran besar dalam proses perkembangan emosi, yang sangat penting bagi perkembangan sifat-sifat manusia yang manusiawi.
Kehalusan dan kepekaan seseorang untuk dapat ikut merasakan perasaan orang lain, menghayati pengalaman kehidupan dengan “perasaan”, adalah fungsi otak kanan, sedang kemampuan mengerti perasaan orang lain, mengerti pengalaman dengan rasio adalah fungsi otak kiri. Kemampuan seseorang untuk dapat berkomunikasi dengan baik dan manusiawi dengan orang lain merupakan percampuran (blending antara otak kanan dan kiri itu).
Proses mendengar musik merupakan salah satu bentuk komunikasi afektif dan memberikan pengalaman emosional. Emosi yang merupakan suatu pengalaman subjektif yang inherent terdapat pada setiap manusia. Untuk dapat merasakan dan menghayati serta mengevaluasi makna dari interaksi dengan lingkungan, ternyata dapat dirangsang dan dioptimalkan perkembangannya melalui musik sejak masa dini.
Campbell 2001 dalam bukunya efek Mozart mengatakan musik romantik (Schubert, Schuman, Chopin, dan Tchaikovsky) dapat digunakan untuk meningkatkan kasih sayang dan simpati.
Musik digambarkan sebagai salah satu “bentuk murni” ekspresi emosi. Musik mengandung berbagai contour, spacing, variasi intensitas dan modulasi bunyi yang luas, sesuai dengan komponen-komponen emosi manusia.
Pembelajaran Kreatif dengan Peraga
Oleh Khoiri
Permasalahan pendidikan diIndonesia seolah-olah tidak ada habisnya untuk dibicarakan. Masalah-masalah yang akhir-akhir ini muncul, antara lain, mutu pendidikan, perubahan kurikulum, sarana dan prasarana pendidikan, sistem evaluasi, sertifikat guru, dan masalah yang menjadi proses belajar mengajar.
Yang justru jarang diangkat media adalah masalah-masalah yang terkait dengan kegiatan pembelajaran yang diterapkan para guru diIndonesia . Padahal, masalah inovasi pembelajaran di kelas menjadi harapan agar mutu pendidikan nasional menjadi lebih baik, meningkat, dan progresif.
Tulisan ini dibuat berdasarkan pengalaman penulis dalam melaksanakan tugas sebagai PBS (pemandu bidang studi) IPA tingkat SD. PBS Dinas Pendidikan dan Kebudayaan tingkat kabupaten, dengan tegas yaitu:
1. Menyelenggarakan kelompok kerja guru (KKG) guru IPA tiap gugus sekolah (Guslah).
2. Melaksanakan monitoring guru-guru IPA dalam proses belajar mengajar.
Berdasarkan hasil monitoring kelas pada saat pembelajaran IPA, banyak sekali masalah yang muncul yang dialami guru yaitu:
1. Guru tidak siap mengajar, dalam arti terkadang guru belum memahami konsep materi yang akan disampaikan.
2. Kesulitan memakai pelajaran, guru sering kesulitan dalam memunculkan minat belajar anak.
3. Kurang optimal dalam penerapan metode pembelajaran yang ada.
4. Kesulitan memilih dan menentukan alat peraga uang sesuai dengan materi yang diajarkan.
5. Kesulitan menanamkan konsep yang benar pada siswa, dan sering bersifat verbalisme.
Setelah ditemukan berbagai masalah dalam pembelajaranIPA SD , dicatat dan diidentifikasi dan masalah tersebut dibahas dalam KKG IPA tiap guslah. Untuk membenahi berbagai kekurangan pembelajaran, para guru bergantian melaksanakan microteaching, di hadapan guru lain secara bergantian, sehingga masalah-masalah dalam pembelajaran dieliminasi sekecil mungkin.
Persoalan dalam pembelajaran merupakan suatu dinamika kehidupan guru dan murid di sekolah. Masalah itu tak akan pernah habis untuk dikupas dan tak pernah tuntas dibahas. Maka dari itu, guru hendaknya senantiasa belajar dan belajar agar dapat mengajar dan mendidik dengan seprofesional mungkin. Begitu juga murid-murid, setiap tahun berganti murid, masalah yang dihadapi guru akan berbeda pula.
Berikut ini pemaparan pengalaman belajar yang dapat dijadikan bahan pembanding bagi guru lain. Di suatu pagi dilaksanakan pembelajaran IPA di kelas 6 materi yang diajarkan adalah "darah". Penulis merencanakan dari mana pembelajaran tersebut dapat dimulai agar anak-anak senang dalam mengikuti pelajaran.
Untuk memunculkan motivasi anak belajar secara eksternal (dari luar diri anak), dimulailah pembelajaran dengan sosiodrama yang begitu mengejutkan. Tanpa diketahui murid-murid penulis menusuk ujung jari tengah dengan jarum yang telah disediakan, "Aduh .... aduh", sambil memegangi jari tengah yang ditusuk. Tak lama kemudian semua konsentrasi anak tertuju pada ujung jari berdarah, cuma pura-pura panik, dan meminta tolong salah satu murid untuk mengusap darah yang keluar dari jari tengah guru.
Dengan bergegas murid tersebut mengusap dengan perasaan cemas. Semua murid tercengang dan tertuju pada darah yang dilihatnya. Lalu guru bertanya, "Apa yang terdapat pada kapas ini?" Spontan murid-murid menjawab, "Darah, Pak." Maka, guru melanjutkan pertanyaan-pertanyaan seputar materi "darah". Hal itu ditujukan untuk melaksanakan prestasi guna mengetahui tingkat permasalahan siswa terhadap materi yang akan disampaikan. Prestasi sangat penting dalam pembelajaran karena dengan prestasi dapat memberikan prestasi sesuai kebutuhan anak.
Permasalahan pendidikan di
Yang justru jarang diangkat media adalah masalah-masalah yang terkait dengan kegiatan pembelajaran yang diterapkan para guru di
Tulisan ini dibuat berdasarkan pengalaman penulis dalam melaksanakan tugas sebagai PBS (pemandu bidang studi) IPA tingkat SD. PBS Dinas Pendidikan dan Kebudayaan tingkat kabupaten, dengan tegas yaitu:
1. Menyelenggarakan kelompok kerja guru (KKG) guru IPA tiap gugus sekolah (Guslah).
2. Melaksanakan monitoring guru-guru IPA dalam proses belajar mengajar.
Berdasarkan hasil monitoring kelas pada saat pembelajaran IPA, banyak sekali masalah yang muncul yang dialami guru yaitu:
1. Guru tidak siap mengajar, dalam arti terkadang guru belum memahami konsep materi yang akan disampaikan.
2. Kesulitan memakai pelajaran, guru sering kesulitan dalam memunculkan minat belajar anak.
3. Kurang optimal dalam penerapan metode pembelajaran yang ada.
4. Kesulitan memilih dan menentukan alat peraga uang sesuai dengan materi yang diajarkan.
5. Kesulitan menanamkan konsep yang benar pada siswa, dan sering bersifat verbalisme.
Setelah ditemukan berbagai masalah dalam pembelajaran
Persoalan dalam pembelajaran merupakan suatu dinamika kehidupan guru dan murid di sekolah. Masalah itu tak akan pernah habis untuk dikupas dan tak pernah tuntas dibahas. Maka dari itu, guru hendaknya senantiasa belajar dan belajar agar dapat mengajar dan mendidik dengan seprofesional mungkin. Begitu juga murid-murid, setiap tahun berganti murid, masalah yang dihadapi guru akan berbeda pula.
Berikut ini pemaparan pengalaman belajar yang dapat dijadikan bahan pembanding bagi guru lain. Di suatu pagi dilaksanakan pembelajaran IPA di kelas 6 materi yang diajarkan adalah "darah". Penulis merencanakan dari mana pembelajaran tersebut dapat dimulai agar anak-anak senang dalam mengikuti pelajaran.
Untuk memunculkan motivasi anak belajar secara eksternal (dari luar diri anak), dimulailah pembelajaran dengan sosiodrama yang begitu mengejutkan. Tanpa diketahui murid-murid penulis menusuk ujung jari tengah dengan jarum yang telah disediakan, "Aduh .... aduh", sambil memegangi jari tengah yang ditusuk. Tak lama kemudian semua konsentrasi anak tertuju pada ujung jari berdarah, cuma pura-pura panik, dan meminta tolong salah satu murid untuk mengusap darah yang keluar dari jari tengah guru.
Dengan bergegas murid tersebut mengusap dengan perasaan cemas. Semua murid tercengang dan tertuju pada darah yang dilihatnya. Lalu guru bertanya, "Apa yang terdapat pada kapas ini?" Spontan murid-murid menjawab, "Darah, Pak." Maka, guru melanjutkan pertanyaan-pertanyaan seputar materi "darah". Hal itu ditujukan untuk melaksanakan prestasi guna mengetahui tingkat permasalahan siswa terhadap materi yang akan disampaikan. Prestasi sangat penting dalam pembelajaran karena dengan prestasi dapat memberikan prestasi sesuai kebutuhan anak.
Tugas TIK
Pada Prodi BK terdapat satu mata kuliah Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK).
Salah satu tugas pada matakuliah ini adalah membuat blog.
by : Rizqi Saras Hidayati.
Salah satu tugas pada matakuliah ini adalah membuat blog.
by : Rizqi Saras Hidayati.
Langganan:
Postingan (Atom)